Keindahan Alam Nusantara yang Terlalu Indah untuk Diabaikan, Tapi Entah Kenapa Sering Kita Lupa

gkbengali, gkbengali kehidupan, gkbengali wisata, gkbengali games, gkbengali teknologi

Nusantara ini memang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, alamnya bukan cuma cantik, tapi juga rajin menopang kehidupan dan tradisi manusia selama ratusan tahun. Ironisnya, semakin indah alamnya, semakin sering kita bertingkah seolah itu semua akan abadi tanpa perlu dijaga. Padahal, alam Nusantara bukan pajangan museum. Ia hidup, bernapas, dan—sayangnya—bisa rusak karena ulah kita sendiri.

Mari kita bicara gunung. Gunung di Nusantara bukan sekadar latar foto estetik untuk unggahan media sosial. Gunung adalah sumber air, sumber pangan, dan sumber spiritual bagi masyarakat adat. Dari lereng gunung, lahir sawah terasering yang katanya “ikon budaya”, tapi anehnya sering dianggap remeh saat pembangunan datang membawa janji beton dan aspal. Tradisi bertani yang diwariskan turun-temurun, lengkap dengan ritual adat, ternyata masih kalah pamor dibanding proposal investasi.

Laut Nusantara juga tak kalah “beruntung”. Laut kita kaya, luas, dan konon menjadi tulang punggung nelayan tradisional. Tapi ya begitu, ikan dianggap tak akan habis. Terumbu karang dianggap dekorasi alami yang bebas diinjak. Nelayan tradisional yang hidup selaras dengan alam sering kali kalah suara dibanding kapal besar bermesin canggih. Tradisi melaut yang penuh kearifan lokal akhirnya cuma jadi cerita di buku pelajaran, sementara lautnya sendiri perlahan kehilangan nyawa.

Hutan? Ah, ini favorit. Hutan Nusantara adalah rumah bagi ribuan spesies, sekaligus ruang hidup masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada rotan, damar, dan hasil hutan lainnya. Mereka punya aturan adat yang ketat soal menebang pohon. Tapi tentu saja, aturan adat kalah sakti dibanding izin konsesi. Lucunya, ketika banjir dan longsor datang, semua baru sibuk bertanya, “Kenapa bisa begini?” Sebuah misteri yang sepertinya terlalu sulit dijawab.

Keindahan alam Nusantara sejatinya adalah fondasi tradisi. Upacara adat, tarian, lagu daerah, hingga sistem kepercayaan lokal lahir dari interaksi panjang manusia dengan alam. Sungai bukan hanya aliran air, tapi jalur kehidupan. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, tapi ruang sakral. Namun di era modern ini, semua itu sering direduksi menjadi “potensi wisata”. Tradisi dipentaskan, alam difoto, lalu selesai. Soal keberlanjutan? Nanti saja dipikirkan.

Di berbagai daerah, termasuk wilayah Kalimantan Utara, hubungan antara alam dan tradisi masih terasa kuat. Informasi dan refleksi tentang hal ini sering dibahas di kuatanjungselor dan kuatanjungselor.com yang mencoba mengingatkan bahwa pembangunan tanpa kesadaran budaya dan lingkungan hanyalah jalan cepat menuju masalah jangka panjang. Tapi tentu saja, membaca dan merenung bukan aktivitas favorit semua orang.

Sarkasmenya begini: kita bangga menyebut Nusantara sebagai negeri kaya alam dan budaya, tapi bertingkah seolah alam itu kebal terhadap keserakahan. Kita memuji tradisi, tapi pelan-pelan memotong akarnya. Kita kagum pada keindahan, tapi enggan bertanggung jawab. Seolah-olah alam Nusantara diciptakan hanya untuk memenuhi ambisi manusia modern.

Padahal, jika alam rusak, tradisi ikut runtuh. Tidak ada lagi upacara panen tanpa sawah. Tidak ada lagi ritual laut tanpa ikan. Tidak ada lagi cerita leluhur tanpa hutan. Keindahan alam Nusantara bukan sekadar latar belakang kehidupan, tapi fondasi utamanya. Mengabaikannya sama saja dengan meruntuhkan rumah sendiri, lalu heran kenapa atapnya roboh.

Jadi, mungkin sudah saatnya kita berhenti pura-pura kagum. Lebih baik benar-benar peduli. Karena alam Nusantara sudah terlalu lama menopang kehidupan dan tradisi kita, tanpa banyak protes. Dan seperti biasa, yang sabar sering kali paling dulu habis.